Senin, 14 September 2015

My Last Memories ( CERPEN )

My Last Memories


Author :ShinING
Tittle : *sudah tertera diatas
Cast : *silahkan dibaca :)
Genre : sad (?), Mellow
Alur : Maju Mundur


aku duduk disini sendirian, menatap kosong kearah kolam ikan. Pada pagi hari Taman ini sepi. Lebih tepatnya belum banyak pengunjung-Sebentar lagi pasti ramai didatangi orang-.          
   Dari tadi aku bergeming. Bukan berarti aku tidak sedang memikirkan sesuatu. otakku kini sedang berputar seperti roll film yang memainkan setiap adegan-adegan dari filmnya. Memutar setiap memori-memori yang kubuat bersama orang itu. Bahkan, terkadang aku merasa tanpanya aku akan mati. Tapi ternyata tidak. Aku masih bisa menghirup oksigen sampai saat ini.

Ibu.

Orang yang satu-satunya mengerti keadaanku. Orang yang tahu persis bagaimana cara mencairkan amarahku. Orang yang menjadi tempat untuk curahan hatiku. Hanya Ibu. Tapi, sudah empat tahun ini aku tidak dapat melihatnya setidaknya sehelai rambut Ibu.

Aku rindu ...

Mataku mulai memanas dan berubah kemerah-merahan. kepalaku berdenyut. Jantungku seperti dipukul oleh stick drum. Semakin aku mengingat memori bersamanya, semakin aku merasa buruk untuknya. Aku pernah berfikir bahwa ...

Aku telah gagal menjadi seorang anak,

“  Rina, kamu masih disini ? “ sebuah suara berhasil membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh kearahnya perlahan dan,  aku merasa lemas sekali. Aku merasa tak berdaya. Rasanya seluruh tubuhku dibuat menggunakan material terapuh di dunia, yang hanya digerakkan sedikit saja dapat menghancurkan seluruh stukturnya.

“ kamu menangis ? “ tanyanya. Aku mengangguk sepelan mungkin sambil mencoba untuk tersenyum. Tapi mau bagaimana lagi ? aku tidak bisa berbohong didepan orang ini                 
-Janet,sahabatku-. Dia tahu bagaimana aku. Akhirnya sambil masih melebarkan kedua ujung bibir ini, Air mataku seakan tidak bisa diajak untuk berkompromi dan terus merembes dengan mudahnya.

“ tenanglah Rina, di hari yang seperti ini kamu tidak seharusnya menangis. Kamu harusnya mendo’akan beliau yang berada disana. “ ujarnya sambil menunjuk kearah langit biru yang membentang luas dan dikelilingi awan putih yang tampak bahagia berjalan beriringan.

Kutatap lekat-lekat langit biru itu. Sementara pandanganku terfokus keatas, Janet menarik telunjuknya sambil tersenyum melihatku yang berjalan perlahan kedepan, seakan ditarik oleh langit biru . atau lebih tepatnya, terhipnotis. Aku, terus berjalan sampai akhirnya aku melihat..

Ibu

Aku bisa melihat Ibu dari sini. Aku bisa dengan jelas melihat wajahnya yang sedang tersenyum kearahku. Benarkah, Ibu ada diatas sana ? tersenyum kepadaku ?

***
“ Tidak mau, ah! Masa aku harus pakai yang ini ? iiih ~ yang ini jelek, bu. Aku ingin dress cantik yang ada di toko waktu itu ~”

“kalau tidak mau pakai, ya sudah~ tapi yang pasti, Ibu tidak akan membelikan yang lain. Memangnya, apa sih yang membuatmu tidak mau ? Toh, baju ini tidak kalah tanding dengan baju-bajumu yang lain “

2 jam waktu yang kuhabiskan untuk berdebat masalah ‘baju’ dengan ibuku. Mungkin aku benar-benar keturunannya. Kami sama-sama keras kepala. Bagaimana aku bisa mengenakan baju seperti itu untuk pesta ulang tahunku yang ke tujuh belas ini ? anak lain punya dress dan blus indah, nah aku ? dress dengan gaya tahun 90-an dan corak bunga di seluruh tempatnya. Ditambah lagi bahannya yang terlihat sangat ‘kuno’ dan bahkan ibu menyuruhku memakai sepatunya. Ibu bilang saat masih muda, Ibu menjadi pusat perhatian saat mengenakan segala atribut 90-annya. Aku mengerti sekarang maksud dari perkembangan Zaman. Aduh Ibuu ~

*

“ Rin, elo pake baju apaan tuh ? lo keliatan kaya’ nenek gue tau nggak?  padahal tempatnya keren buat ngerayain sweet 17th lo. Kok jadi nggak nyambung sama bajunya sih ? “ Randi tertawa gila. Aku akan menepuk jidatmu besok di sekolah! “ yaah, sebenarnya sih nyambung-nyambung aja kalo Taman ini, sama elo yang pake baju gituan disatu-in gitu. Tapi Rin, masalahnya kita sekarang ada di tahun 2011!! Bruakakkaka” Randi kembali memegang perutnya. Dan aku ? berdiri sambil memegang segelas Orange Juice dan tertawa renyah menanggapinya.

Taman terlihat indah malam ini. Orang tuaku sudah menyulap tempat ini menjadi mirip seperti pekarangan –setidaknya-  kerajaan. Dengan kerlap-kerlip lampu yang ditempelkan di beberapa kursi taman dan pepohonan, membuatnya terlihat sempurna. Dan tentu saja, gantungan dengan tulisan ‘HAPPY SWEET 17TH RINA’ terpampang jelas malam ini.

Tiba-tiba, seluruh lampu mati dan hanya cahaya bulan yang terlihat. Teman-temanku panik dan bertanya-tanya ada apa. Dan tentu saja aku sendiri tidak tahu kenapa. Sedetik kemudian sebuah lampu menyala dan menyorot seseorang. Sepertinya sudah direncanakan.

Disana, aku melihat ayah sedang berdiri memegang sebuah benda berbentuk kotak, penampilannya ; tidak rapi, berkeringat, mata merah dan terlihat baru saja menangis.
“ ayah ?” raut wajahku seakan bertanya kenapa. Ayah berjalan mendekatiku dan menyodorkan bungkusan itu untukku. “cepat kedalam dan pakai ini, nak” ujar ayah lembut dan terdengar gemetar. Ayah seperti ingin menangis. Saat kubuka, ternyata dress selutut yang sempat menjadi topik perdebatan antara ibu dan aku terlipat rapi didalamnya. Darahku berdesir, aku senang bukan main !!! cepat-cepat ku peluk ayah dan langsung berlari kedalam untuk mengganti dress kuno Ibu dengan dress mewah berwarna Saphire Blue baruku ini. Aku senang sekali !!!

*

Setelah hari itu, aku tidak pernah melihat Ibuku selama 30 hari. Ayah bilang Ibu pulang kampung. Namun tepat di hari upacara kelulusanku, ayah bilang bahwa orang yang paling kami cintai telah lama meninggalkan kami. Sejak ‘malam’ itu. Sejak malam dimana ternyata Ibu rela mencari dress warna kesukaanku sebagai kado. Beliau, meninggal saat mencoba menyebrang jalan dan ayah yang memarkirkan mobilnya di seberang toko langsung berlari memeluk Ibu dan membawanya ke Rumah Sakit. Ibu sekarat karena hantaman mobil yang begitu kuat. Ayah bilang, Ibu melarangku untuk tahu hal ini sampai acaraku selesai. Ayah bilang, Ibu berpesan agar aku tidak terlalu keras kepala dan bergantung padanya. Karena saat hal seperti ini terjadi, Ibu takut aku tidak bisa menjalani hidupku lagi dan masih bergantung padanya. Dan benar saja, aku langsung down dan menjalani hidupku seakan-akan akupun ikut dikuburkan bersama jasad ibu.

Aku gagal menjadi seorang anak ...

Tapi pada hari ke-100 kepergiannya ibu, aku bermimpi. Ibu datang dengan tatapan hangatnya dan memelukku dengan pelukan yang juga selalu terasa ... hangat. Sementara aku terdiam dan akhirnya menangis.

“ Ibu harap, tangisan ini adalah tangisan terakhirmu. Ibu tidak ingin menjadikan kematian Ibu sebagai beban di hidupmu, nak.. kau harus melanjutkan hidupmu seperti dulu. Jadilah gadis periang seperti dulu, baik hati dan jujur. Hilangkan sifat keras kepalamu, ya~” aku semakin menangis dimimpi itu. Kupeluk Ibu seerat yang kubisa. “sayang, kau bagaikan berlian yang selalu ada dihati Ibu.” Setelah itu aku terbangun. Dan seperti kata Ibu, itu adalah tangis terakhirku.

***

Sampai saat ini, aku tidak menangis lagi. Tapi, rasa rindu yang kupendam selama 4 tahun meledak! Aku tidak dapat menahannya lagi. Sambil masih menatap langit biru, aku menangis sejadi-jadinya. Mataku sudah sangat merah dan terasa panas. Tenggorokanku sakit akibat tangisan ini. airmataku masih merembes dengan derasnya. Janet yang menungguku dari tadi kini berjalan menghampiriku dan memelukku. “sudahlah” ujarnya menepuk pelan bahuku.

Kenapa harus di hari penting itu ? seharusnya hari itu kukenang karena itu adalah hari dimana aku berulang tahun, ke-17. Tapi kini, aku mancatat hari itu sebagai hari paling menyakitkan yang pernah ku jalani. Oh Tuhan ... aku teringat kembali akan Ibu .. wajah Ibu mulai menghilang dari langit biru itu.

Ibu, aku merindukanmu .. segala hal tentangmu masih sering terlintas di memoriku ~

Ibu, aku ingin bertemu .. apakah pertemuan di mimpi itu adalah yang terakhir ?

Ibu, aku ingin kau disampingku saat aku menikah kelak ~

Ibu , Ibu, Ibu, ,,

“ Rin, lebih baik kita ke tempat ibumu dan mendoakannya sekarang” ajak Janet. “ayo”

Aku menyayangimu

Selalu.
-Kini aku hidup seperti saat Ibu masih bisa bersamaku. Dan,aku bahagia-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar