My Last Memories
Author :ShinING
Tittle : *sudah tertera diatas
Cast : *silahkan dibaca :)
Genre : sad (?), Mellow
Alur : Maju Mundur
aku duduk disini
sendirian, menatap kosong kearah kolam ikan. Pada pagi hari Taman ini sepi.
Lebih tepatnya belum banyak pengunjung-Sebentar lagi pasti ramai didatangi
orang-.
Dari tadi aku
bergeming. Bukan berarti aku tidak sedang memikirkan sesuatu. otakku kini
sedang berputar seperti roll film yang memainkan setiap adegan-adegan dari
filmnya. Memutar setiap memori-memori yang kubuat bersama orang itu. Bahkan,
terkadang aku merasa tanpanya aku akan mati. Tapi ternyata tidak. Aku masih
bisa menghirup oksigen sampai saat ini.
Ibu.
Orang yang satu-satunya
mengerti keadaanku. Orang yang tahu persis bagaimana cara mencairkan amarahku.
Orang yang menjadi tempat untuk curahan hatiku. Hanya Ibu. Tapi, sudah empat
tahun ini aku tidak dapat melihatnya setidaknya sehelai rambut Ibu.
Aku rindu ...
Mataku mulai memanas
dan berubah kemerah-merahan. kepalaku berdenyut. Jantungku seperti dipukul oleh
stick drum. Semakin aku mengingat memori bersamanya, semakin aku merasa buruk
untuknya. Aku pernah berfikir bahwa ...
Aku telah gagal menjadi
seorang anak,
“ Rina, kamu masih disini ? “ sebuah suara
berhasil membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh kearahnya
perlahan dan, aku merasa lemas sekali.
Aku merasa tak berdaya. Rasanya seluruh tubuhku dibuat menggunakan material
terapuh di dunia, yang hanya digerakkan sedikit saja dapat menghancurkan
seluruh stukturnya.
“ kamu menangis ? “
tanyanya. Aku mengangguk sepelan mungkin sambil mencoba untuk tersenyum. Tapi
mau bagaimana lagi ? aku tidak bisa berbohong didepan orang ini
-Janet,sahabatku-. Dia tahu
bagaimana aku. Akhirnya sambil masih melebarkan kedua ujung bibir ini, Air
mataku seakan tidak bisa diajak untuk berkompromi dan terus merembes dengan
mudahnya.
“ tenanglah Rina, di
hari yang seperti ini kamu tidak seharusnya menangis. Kamu harusnya mendo’akan
beliau yang berada disana. “ ujarnya sambil menunjuk kearah langit biru yang
membentang luas dan dikelilingi awan putih yang tampak bahagia berjalan
beriringan.
Kutatap lekat-lekat langit
biru itu. Sementara pandanganku terfokus keatas, Janet menarik telunjuknya
sambil tersenyum melihatku yang berjalan perlahan kedepan, seakan ditarik oleh
langit biru . atau lebih tepatnya, terhipnotis. Aku, terus berjalan sampai
akhirnya aku melihat..
Ibu
Aku bisa melihat Ibu
dari sini. Aku bisa dengan jelas melihat wajahnya yang sedang tersenyum
kearahku. Benarkah, Ibu ada diatas sana ? tersenyum kepadaku ?
***
“ Tidak mau, ah! Masa
aku harus pakai yang ini ? iiih ~ yang ini jelek, bu. Aku ingin dress cantik
yang ada di toko waktu itu ~”
“kalau tidak mau pakai,
ya sudah~ tapi yang pasti, Ibu tidak akan membelikan yang lain. Memangnya, apa
sih yang membuatmu tidak mau ? Toh, baju ini tidak kalah tanding dengan
baju-bajumu yang lain “
2 jam waktu yang kuhabiskan
untuk berdebat masalah ‘baju’ dengan ibuku. Mungkin aku benar-benar
keturunannya. Kami sama-sama keras kepala. Bagaimana aku bisa mengenakan baju
seperti itu untuk pesta ulang tahunku yang ke tujuh belas ini ? anak lain punya
dress dan blus indah, nah aku ? dress dengan gaya tahun 90-an dan corak bunga
di seluruh tempatnya. Ditambah lagi bahannya yang terlihat sangat ‘kuno’ dan
bahkan ibu menyuruhku memakai sepatunya. Ibu bilang saat masih muda, Ibu
menjadi pusat perhatian saat mengenakan segala atribut 90-annya. Aku mengerti
sekarang maksud dari perkembangan Zaman. Aduh Ibuu ~
*
“ Rin, elo pake baju
apaan tuh ? lo keliatan kaya’ nenek gue tau nggak? padahal tempatnya keren buat ngerayain sweet
17th lo. Kok jadi nggak nyambung sama bajunya sih ? “ Randi tertawa gila. Aku
akan menepuk jidatmu besok di sekolah! “ yaah, sebenarnya sih nyambung-nyambung
aja kalo Taman ini, sama elo yang pake baju gituan disatu-in gitu. Tapi Rin,
masalahnya kita sekarang ada di tahun 2011!! Bruakakkaka” Randi kembali memegang
perutnya. Dan aku ? berdiri sambil memegang segelas Orange Juice dan tertawa
renyah menanggapinya.
Taman terlihat indah
malam ini. Orang tuaku sudah menyulap tempat ini menjadi mirip seperti pekarangan
–setidaknya- kerajaan. Dengan
kerlap-kerlip lampu yang ditempelkan di beberapa kursi taman dan pepohonan,
membuatnya terlihat sempurna. Dan tentu saja, gantungan dengan tulisan ‘HAPPY
SWEET 17TH RINA’ terpampang jelas malam ini.
Tiba-tiba, seluruh
lampu mati dan hanya cahaya bulan yang terlihat. Teman-temanku panik dan
bertanya-tanya ada apa. Dan tentu saja aku sendiri tidak tahu kenapa. Sedetik
kemudian sebuah lampu menyala dan menyorot seseorang. Sepertinya sudah
direncanakan.
Disana, aku melihat
ayah sedang berdiri memegang sebuah benda berbentuk kotak, penampilannya ;
tidak rapi, berkeringat, mata merah dan terlihat baru saja menangis.
“ ayah ?” raut wajahku
seakan bertanya kenapa. Ayah berjalan mendekatiku dan menyodorkan bungkusan itu
untukku. “cepat kedalam dan pakai ini, nak” ujar ayah lembut dan terdengar
gemetar. Ayah seperti ingin menangis. Saat kubuka, ternyata dress selutut yang
sempat menjadi topik perdebatan antara ibu dan aku terlipat rapi didalamnya.
Darahku berdesir, aku senang bukan main !!! cepat-cepat ku peluk ayah dan
langsung berlari kedalam untuk mengganti dress kuno Ibu dengan dress mewah
berwarna Saphire Blue baruku ini. Aku
senang sekali !!!
*
Setelah hari itu, aku
tidak pernah melihat Ibuku selama 30 hari. Ayah bilang Ibu pulang kampung. Namun
tepat di hari upacara kelulusanku, ayah bilang bahwa orang yang paling kami
cintai telah lama meninggalkan kami. Sejak ‘malam’ itu. Sejak malam dimana
ternyata Ibu rela mencari dress warna kesukaanku sebagai kado. Beliau,
meninggal saat mencoba menyebrang jalan dan ayah yang memarkirkan mobilnya di
seberang toko langsung berlari memeluk Ibu dan membawanya ke Rumah Sakit. Ibu
sekarat karena hantaman mobil yang begitu kuat. Ayah bilang, Ibu melarangku
untuk tahu hal ini sampai acaraku selesai. Ayah bilang, Ibu berpesan agar aku
tidak terlalu keras kepala dan bergantung padanya. Karena saat hal seperti ini
terjadi, Ibu takut aku tidak bisa menjalani hidupku lagi dan masih bergantung
padanya. Dan benar saja, aku langsung down
dan menjalani hidupku seakan-akan akupun ikut dikuburkan bersama jasad ibu.
Aku gagal menjadi
seorang anak ...
Tapi pada hari ke-100
kepergiannya ibu, aku bermimpi. Ibu datang dengan tatapan hangatnya dan
memelukku dengan pelukan yang juga selalu terasa ... hangat. Sementara aku
terdiam dan akhirnya menangis.
“
Ibu harap, tangisan ini adalah tangisan terakhirmu. Ibu tidak ingin menjadikan
kematian Ibu sebagai beban di hidupmu, nak.. kau harus melanjutkan hidupmu
seperti dulu. Jadilah gadis periang seperti dulu, baik hati dan jujur.
Hilangkan sifat keras kepalamu, ya~” aku semakin menangis
dimimpi itu. Kupeluk Ibu seerat yang kubisa. “sayang, kau bagaikan berlian yang selalu ada dihati Ibu.” Setelah
itu aku terbangun. Dan seperti kata Ibu, itu adalah tangis terakhirku.
***
Sampai saat ini, aku
tidak menangis lagi. Tapi, rasa rindu yang kupendam selama 4 tahun meledak! Aku
tidak dapat menahannya lagi. Sambil masih menatap langit biru, aku menangis
sejadi-jadinya. Mataku sudah sangat merah dan terasa panas. Tenggorokanku sakit
akibat tangisan ini. airmataku masih merembes dengan derasnya. Janet yang
menungguku dari tadi kini berjalan menghampiriku dan memelukku. “sudahlah”
ujarnya menepuk pelan bahuku.
Kenapa harus di hari
penting itu ? seharusnya hari itu kukenang karena itu adalah hari dimana aku
berulang tahun, ke-17. Tapi kini, aku mancatat hari itu sebagai hari paling
menyakitkan yang pernah ku jalani. Oh Tuhan ... aku teringat kembali akan Ibu
.. wajah Ibu mulai menghilang dari langit biru itu.
Ibu, aku merindukanmu
.. segala hal tentangmu masih sering terlintas di memoriku ~
Ibu, aku ingin bertemu
.. apakah pertemuan di mimpi itu adalah yang terakhir ?
Ibu, aku ingin kau
disampingku saat aku menikah kelak ~
Ibu , Ibu, Ibu, ,,
“ Rin, lebih baik kita
ke tempat ibumu dan mendoakannya sekarang” ajak Janet. “ayo”
Aku menyayangimu
Selalu.
-Kini aku hidup seperti saat Ibu
masih bisa bersamaku. Dan,aku bahagia-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar